Berita

Nikmat Hikmat Takbiran

Nikmat Hikmat Takbiran

teraju.id, Pontianak – Sejak senja tiba, mega-mega menembaga bak perak dan mutiara saling berbagi cahaya, saat itu pula mengembang takbir, tahlil dan tahmid.

Takbir (Allahu Akbar) Tuhan Yang Maha Besar. Menyiratkan nada hati dan pikiran yang sublim kepada tindakan. Bahwa tidak ada urusan keduniaan yang besar kecuali hubungan spiritual kepada Tuhan. Ketika suara-Nya memanggil, maka diri segera mendatangi, mendekat, merapat, tanpa preserve. Tanpa tameng. Tanpa topeng. Tanpa Tedeng aling-aling. Inilah Kaffah. Inilah syariah. Inilah jalan hidayah. Jalan ketenangan. Jalan keselamatan. Sebab apa-apa di dunia ini atas izin-Nya. Ciptaan-Nya. Kreasi-Nya. Kerajaan-Nya. Al-Mulk – Kerajaan (QS 67).

Gema takbir yang ritmis dan melankolis itu mengiris-iris nurani terdalam. Menembus qalbu yang Darussalam (Arab)–Yerusalem (Ibrani). Kampung surga yang penuh kedamaian bukan inversinya, berupa perang tak berkesudahan.

Maka takbiran adalah alamat damai. Alamat Darussalam. Yerusalem. Pulang kampung sebagaimana lebaran kita mendatangi orang tua, sepuh keluarga dengan mohon restu. Mohon maaf atas segala khilaf dan dosa. Mohon restu atas segenap cita cita mulia membawa damai dan sejahtera sesama umat manusia tanpa sekat etnik, suku, agama, antargolongan. Antarkaos. Antar stempel organisasi.

Pada gema takbir ada satu kata penting: mukhlisinalahuddin. Muklis. Muklas. Ikhlas.