Di media sosial, sentimen positif mendominasi. Banyak publik memuji keberanian Pandji menyebut pejabat, institusi, dan praktik kekuasaan secara gamblang. Materi Mens Rea dianggap relevan dengan keresahan rakyat kecil, mulai dari pajak, gaji pejabat, aparat bersenjata, hingga relasi negara dan warga.
Sebaliknya, media online cenderung menyoroti kontroversi. Isu body shaming, etika komedi, dan potensi pelanggaran hukum lebih sering muncul dibanding pembahasan substansi kritik politiknya. Konflik antartokoh menjadi fokus, sementara pesan yang lebih besar justru tenggelam.
Setiap Platform, Logika yang Berbeda
Percakapan tentang Mens Rea juga memperlihatkan bahwa opini publik Indonesia kini terbentuk di banyak ruang dengan karakter yang berbeda.
Di X, diskusi paling politis dan terpolarisasi. Kritik terhadap negara dan kekuasaan bercampur dengan tuduhan mobilisasi buzzer serta kekhawatiran kriminalisasi. Di Facebook, dukungan emosional lebih dominan. Pandji diposisikan sebagai suara rakyat biasa, dan komedi dilihat sebagai pendidikan politik informal.
Instagram memperkuat Mens Rea sebagai simbol keberhasilan budaya populer. Fokusnya pada capaian dan potongan materi yang mudah dibagikan, bukan perdebatan etis. YouTube menjadi ruang penjelasan yang lebih panjang, tempat publik mencoba memahami konteks dan memisahkan satire dari fakta. TikTok, dengan logika viralitasnya, justru mempercepat emosi tanpa konteks, sehingga kontroversi lebih mudah membesar.
