Ia juga menyinggung pentingnya menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang bahagia. Tidak melulu berkutat kepada hal remeh temeh. Ia menawarkan formulasi yang disingkat PERMA. Meski bukan murni miliknya. Dari hasil googling, ternyata Martin Seligman telah menelurkan pemikiran ini sebelumnya. Tapi Yudi Latif membawa formulasi ini dalam perspektif luas, dalam kehidupan berbangsa.
Perma adalah Positive Emotions, Engagement, Relationships, Meaningfulness dan Achievement.
Dari lima poin tersebut, saya tertarik ulasan mengenai achievement. Ia pernah berbicang dengan Agum Gumelar, mertua pebulutangkis Taufik Hidayat. Ia bertanya mengapa prestasi pebulutangkis nasional cenderung menurun 10 tahun terakhir. Apa yang salah? Agum menjawab, “Tak ada yang salah dengan kemampuan teknis atlet kita. Tapi saat di lapangan, mentallah yang berbicara. Atlet kita, saat melawan atlet China misalnya, mentalnya langsung drop. Kalah sebelum bertanding.”
Secara tak langsung, Yudi ingin mengungkapkan bahwa pencapaian kita sebagai bangsa sangat mempengaruhi sektor lainnya. Kita laksana satu tubuh. Saling menguatkan. Alih-alih menjatuhkan.
Hm…. di sini masalah kita sebenarnya. Kita berebut saling menjatuhkan. Saling berprasangka. Tak merasa bahwa kita di perahu yang sama. Dengan tujuan yang sama. Ini yang saya rasakan beberapa tahun terakhir. Semoga saya salah. Tapi, rasanya tidak.
