“Belum, Pak. Tak bisa tidur”. Jawab si cantik tanpa membalikkan badan.
“Ini uang yang akan kau pinjam tadi. Kau ambil saja. Itu sebenarnya Bapak siapkan untuk membeli bubur sarapanmu besok pagi”. Katanya sambil menunjukkan selembar uang ribuan.
Anak itu langsung duduk dan mendekap erat tubuh bapaknya.
“Terima kasih, Pak.” Kata si anak langsung merebut uang dari tangan bapaknya.
Kemudian ia menarik ujung tikar yang berada di bawah bantal. Mengambil uang yang disimpan di dalam tas kresek. Di tangannya, kini ada lima belas lembar uang ribuan.
Mukanya memerah lagi. Ia merasa diperdaya oleh anaknya. Namun, berusaha ditahan. Wajah istrinya yang sedang tersenyum gembira muncul di kelopak mata si anak kecil itu.
“Sekarang saya sudah cukup uang untuk memberi upah lembur ayah. Besok sore kita berdua makan malam bersama, ya Pak. Aku ingiiinnn sekali. Sekali saja, Pak!” Kata si anak sambil meletakan seluruh uang tersebut di telapak tangan bapaknya.
“Sekarang aku akan tidur pulas. Selamat tidur, Bapak”
Tidak lama berselang sudah terdengar napas lembut anaknya yang sungguh tertidur lelap. Dicium kening si mungil itu sambil membetulkan kain selimutnya.
“Sampai besok anakku. Besok Bapak tidak akan lembur. Kita akan makan malam bersama dilanjutkan dengan main ular tangga kesukaanmu”
