Ia teringat perilaku almarhumah istrinya jika ingin sesuatu. Persis seperti ini. Menggelendot manja. Walau agak berat hati ia berkata,
“Baiklah. Jika kau benar ingin tahu. Lima ribu per jam”
“Oh!” Sahut si anak
“Bolehkah aku pinjam seribu saja?” Tanya si anak sambil memainkan kancing baju bapaknya.
Ia semakin kaget dan muka sudah memerah.
“Sudah kau tidur sana! Besok Bapak jawab. Sekarang masih capai” Sahutnya sambil mendorong anaknya tergolek di balai.
Anak itu langsung menelentangkan tubuh di balai dan miring memunggi bapaknya. Ia pun segera pergi ke dapur sambil membawa cangkir minumnya.
Beberapa lama ia duduk di sana. Mencoba menarik napas panjang, menenangkan hati. Cangkir kaleng yang telah kosong itu dipandangi lama.
‘Heem, tiap sore anak manis ini telah menggantikan kerja ibunya. Menyiapkan makan malam dan minum untuknya’. Katanya di dalam hati.
‘Mungkin anak ini mau beli mainan seperti milik kawan-kawannya’. Pikirnya lagi.
Selang beberapa lama kemudian ia kembali ke balai. Anaknya masih memunggungi dirinya. Sekali lagi mengingatkan perilaku istrinya jika kecewa terhadapnya. Pura-pura tidur miring memunggunginya.
“Nak. Kau belum tidurkan?” Bisiknya sambil membetulkan pita di rambut si anak mungil yang cantik itu.
“Bapak minta maaf, Nak. Tadi agak kasar. Bapak masih capai”.
