Sudah hampir 8 tahun terakhir mereka menjadi anggota kelompok tani ini. Di sekitar kandang sapi, tumbuh subur pohon pisang yang juga ditanam oleh anggota kelompok tani. Buahnya lebat dan bayak. Batang pisang ini, menjadi salah satu sumber pakan sapi, buahnya sumber ekonomi.
Pisangnya dijual, dan hasilnya masuk dalam kas kelompok. Kadang terjual 5 ribu per kilonya. Selain itu, kotoran sapinya rutin dibersihkan. Ditampung dalam tabung penampungan. Disuling, dan menjadi sumber energi bio gas yang dimanfaatkan untuk memasak anggota kelompok yang bertugas menjaga kandang. Ampas kotoran, dijadikan pupuk pohon pisang dan rumput gajah yang ditanam di sekitar kandang juga.
Untuk sumber air minum sapi, anggota kelompok membuat embung air. Embung air yang dimaksud adalah, kolam segi empat yang berukuran besar. Sekelilingnya dibarau atau disemen.
Dinas Peternakan juga sekaligus memberikan bantuan mesin pencacah rumput. Batang pisang, rumput gajah, batang sagu dicacah menggunakan mesin ini. Kadang jika musim paceklik pakan, anggota harus membeli pakan batang sagu. Batang sagu itu kemudian dicincang dan dikeringkan. Setelah kering disimpan, yang nantinya akan dicampur dengan batang pisang.
Jikalah banyak desa yang digali potensinya dan didukung penuh oleh pemerintah, tentu akan banyak warga yang mandiri. Mampu mandiri dan berdaya.
