Community

Dua Perisai Pancasila dan Makna Pindahnya Ibukota ke Jantung Kalimantan

Dua Perisai Pancasila dan Makna Pindahnya Ibukota ke Jantung Kalimantan
Kearifan lokal dalam bentuk dua perisai. Perisai besar dengan perisai kecil berwarna hitam laksana jantung--sebagai pola kiblat / kakbah--dengan merah-putih bertawaf sekelilingnya

Coba simak cara baca Pancasila dalam perisai, setelah sila pertama, ia bergerak gilir-balik seperti pola tawaf pula. Sila pertama berupa cahaya ilahi disimbolkan dengan bintang emas bersudut lima diletakkan pada jantung atau kakbah ini. Sila kedua ke wilayah merah dan terus naik ke kiri balik. Di ruang merah itulah disimpan simbol rantai, simbol kesempurnaan manusia (pria-wanita–lingkar perempuan-rantai kotak laki-laki–diambil dari Dayak Taman-Uncak Kapuas). Sila ketiga di ruang putih dipasang simbol beringin. Gilir balik ke kiri terus bertawaf menuju ruang merah lagi dengan simbol kepala banteng. Lalu sila kelima di ruang putih ditempatkan simbol padi dan kapas. Sungguh filosofis. Sunguh dalam. Sungguh kejam bagi yang tidak kenal Sang Perancang. Sungguh jauh dari penghargaan jika Sang Perancang tak layak disebut Pahlawan. Sementara Garuda rancangannya menoleh ke kanan. Hukum fardhu ‘ain dalam shalat yang menghadap kiblat. Hukum fardhu ain juga sebagai umat manusia sesama manusia dan lingkungannya untuk berbaik sangka. Untuk melihat sesuatu secara positif. Menoleh ke kanan! Padahal dalam rapat parlemen sempat juga ada usulan agar Garuda Pancasila menoleh ke kiri!