Community

Dua Perisai Pancasila dan Makna Pindahnya Ibukota ke Jantung Kalimantan

Dua Perisai Pancasila dan Makna Pindahnya Ibukota ke Jantung Kalimantan
Kearifan lokal dalam bentuk dua perisai. Perisai besar dengan perisai kecil berwarna hitam laksana jantung--sebagai pola kiblat / kakbah--dengan merah-putih bertawaf sekelilingnya

Harap pembaca tahu, bahwa Sang Perancang itu adalah zuriyat Rasulullah Muhammad SAW yang turun temurun sampai ke Alhabib Husin yang menikah dengan putri Dayak, Nyai Tua di Ketapang. Putranya Sultan Syarif Abdurrachman Akadrie yang mendirikan Kesultanan Alqadriyah Pontianak juga menikah dengan putri Opu Daeng Manambon, di mana Opu menikahi putri Dayak Nyai Kesumba yang melahirkan Putri Chandramidi. Putri Chandramidi dinikahi Sultan Syarif Abdurrachman Alqadrie. Sultan Hamid II adalah keturunan ketujuh atau Sultan Ketujuh yang menjadi Raja Pontianak. Sungguh di dalam lambang negara ada garis tebal Kha-TULIS-tiwa pertanda Kalbar dengan ibukota Pontianak si Kota Equator. Juga ada rantai Dayak Taman–tapal batas negara Uncak Kapuas. Juga perisai itu adalah perisai Dayak. Betapa sang perancang jeli melihat masa depan Indonesia. Tak heran jika kelak di kemudian hari Ibukota Negara Indonesia adanya di jantung Kalimantan.

Memang tidak ada yang serba kebetulan. Semua sudah dituliskan di alam langitan. Kita hanya bisa membaca alam dengan sejarah yang bisa diteliti dan dihayati–bahwa ibunya perisai adalah Dayak–ibukota kembali ke Borneo–the original people of Dayak.*