Alif mewakili wajah anak muda Yogya yang bertahan hidup karena menjual skill-nya. Ia bagian dari generasi tanpa kantor. Malam ini beruntung saya bersemuka dengannya lagi. Alif mengakui menerima banyak kerjaan tapi pembayarannya tidak selalu mulus. Ia menganggapnya seperti menabung dan begitu senang jika pembayaran cair. Kliennya tak hanya di Yogya, tersebar ke banyak kota.
Di Yogya, mata pencaharian terbesar tetap bertani tapi belakangan kerja lepas sebagai freelancer di industri kreatif mulai dilakoni banyak orang. Di sini jiwa-jiwa muda tumbuh dan tak pernah menua.
Baca Juga:Naskah tentang Kampung Halaman
