Pada masa itu, aku bersama teman sekelas pernah sekali berkunjung ke rumahnya. Berbagai kue kering dan kue basah tersusun penuh di meja berukuran kira-kira tiga kali dua meter. Tapi, sorot mataku tertuju pada pohon bunga plastik yang digantungi amplop merah. Sangat cantik dan indah sekali. Pohon itu diletakkan di sudut ruang tamu di atas meja. Rantingnya yang panjang digantungi dua sampai tiga amplop merah terlihat menjulang tinggi mendekati langit rumah didampingi beberapa lampion yang tak kalah memukaunya.
“Aceng, amplop itu untuk dipajang jak atau diberi ke orang yang datang ke sini,” tanyaku ketika itu aku berharap diberikan salah satu amplop merahnya.
Namun, ternyata amplop merah merupakan suatu tradisi yang biasanya diberikan kepada anggotanya keluarganya saja.
Saat itu, tidak hanya Aceng teman orang Cinaku. Teman bernama Sintia juga merayakan hari Tahun Baru Imlek. Kami sempat bersilatuhrahmi juga ke rumahnya. Dan sama saja, pohon beramplop merah hanya bisa dipandangi, tapi tak diberi. (*)
