Di Bandara Changi Singapura, Fredo melakukan aksi yang serupa : memproses makanan. Kali ini ia tidak memasak nasi, tapi mie instan. Ia mengambil air di WC kemudian membawanya ke sudut ruang tunggu luar, mengeluarkan kompor portable beserta panci kecil. Ia melakukan aksi merebus mie instan kelas mancanegara di sebuah bandara internasional yang terkenal ketat. Harusnya Fredo diganjar hadiah dari korporasi besar mie instan atas iklan fenomenalnya itu.
Gendeng!
Bikin geleng-geleng kepala!
Mungkin demikian kesan orang yang menyaksikan. Tapi adakah yang salah dari tindakan Fredo itu?
Ia telah menunaikan terapi mental paling ampuh untuk menjadi manusia merdeka dengan mengalami greget.
Fredo pernah berujar, sensasi yang paling ekstase kala kita berjalan jauh sendirian adalah merasa asing, tersesat dan hilang. Tertimbun dalam hingar bingar tempat yang berisi kerumunan manusia dengan tampilan fisik yang beda dan bahasa yang sulit dimengerti.
Dengan begitu, insting kita untuk survive terasah dan terdorong untuk bertindak greget. Seperti misalnya meminta tumpangan. Membangun kontak dengan orang yang baru dikenal. Itu mungkin paling sederhana.
