A : Saya tergantung anak saya. Oh iya aktivitas sehari-hari Ananda apa?
B : Saya aktivis mahasiswa Pak.
A : Ananda bekerja?
B : Saya belum ada pekerjaan tetap Pak. Tapi siap lahir batin untuk tetap bekerja apapun ladangnya selama halal.
A : Kalau Ananda belum ada pekerjaan, bagaimana Ananda memberi makan keluarga?
B : Bapak biasanya kasih makan anak bapak apa? Kalau diberi nasi, saya siap memberi makan nasi.
Tawa Bapak Si Gadis pecah terpingkal-pingkal. Tergelitik lucu oleh jawaban Si Bujang. Ternyata substansi obrolan itu bukan mengukur kemampuan materi tapi menguji kapasitas mental calon menantu. Lamaran si Bujang diterima.
