Saya teringat dengan cerita seorang kawan yang berangkat dari Jogja ke Jakarta dengan bus tanpa keluar sepeserpun ongkos transportasi. Caranya ia naik ke bus untuk terus bergerak. Setiap kali ada permintaan menunjukkan karcis, ia jujur mengatakan tak ada uang. Hasilnya, Ia langsung diturunkan di tengah jalan. Kemudian dia melambai ke bus berikutnya, naik ke bus, tak menunjukkan karcis lalu diturunkan. Begitu berulang seterusnya hingga ia sampai ke Jakarta tanpa keluar ongkos transportasi.
Adakah pengalaman greget kalian?
Atau hendak melakukan aksi greget ketika ingin meminang angin pujaan hujan? Eh bukan ding. Itu judul lagu Payung Teduh. Yang benar, mengalami greget ketika meminang gadis pujaan hati.
Syahdan, seorang bujang berhati lurus di sepanjang tepian sungai kapuas mau menggenapi separuh agama. Ia menuju sebuah desa yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Alamat seorang gadis yang memikat hatinya. Dengan keterangan seadanya, setelah sempat tersesat ia tiba di sebuah rumah dengan halaman asri yang luas. Itu alamat yang ia tuju.
Mengetuk rumah, dipersilahkan masuk, ia mengenalkan diri sekaligus memberi pengantar pembicaraannya. Intinya pada percakapannya berikut. Bujang saya singkat B, Bapak kepala keluarga, ayah si gadis saya singkat A.
B : Jadi Pak, saya hendak memperistri anak Bapak.
