Community

Ikan Cupang Bang Yanda

Ikan Cupang Bang Yanda

Ikan cupang yang baru dibeli dimasukkan ke dalam akuarium kecil yang sudah diisi air hujan dan rumput air. Setiap hari entah berapa kali, Bang Yanda berulang alik melihatnya –tepatnya, mengacaukan ikan. Dia mengajak kawan-kawannya menangkap ikan memindahkan ke wadah kecil, memberi makan sesukanya. Bonyoklah ikan itu. Kalau sudah puas, ikan itu dikembalikan ke dalam akuarium.

Tiga empat hari kemudian gelembung di sudut akuarium semakin banyak. Terutama kalau pagi, jumlah gelembungnya bertambah.

“Yah, ikannya betelo’,” kata Abang ribut.

“Lihat, Yah,”

Saya tidak yakin. Saya kira hanya gelembung saja, ciri ikan ini membentuk teroriti.

Sehari dua saya masih tidak percaya ikan cupang Abang bertelur. Tetapi, Abang dan juga Bundanya sudah yakin di gelembung ini ada anak ikannya.

Hingga kemudian saya bawakan lampu untuk melihat dengan lebih jelas apa yang ada di balik gelembung itu. Benar, saya sesuatu. Ada anak ikan. Kecil sekali.

Saya ingat ada keluarga saya pernah mengatakan induk ikan cupang memangsa anaknya. Janta yang menjaga anaknya. Cupang betina kemudian dipindahkan ke dalam wadah dari potongan botol plastik besar.

Semakin lama, anak-anak ikan cupang semakin jelas. Mengapung, bergerak kala airnya disentuh.