Aku bertugas mengawasi anak di kelas VII. Ada satu orang murid yang bingung dalam menulis tentang Badau, sebab dia merupakan anak pindahan dari Majalengka. Namanya Reyhan. Diketahui dia belum lama ini tinggal menetap di desa Badau karena ikut orangtuanya yang pindah tugas untuk kerja di sini. Sebagai orang pendatang, Reyhan tentu belum mengenali lingkungan barunya. Maka dari itu, Reyhan hanya menuliskan seputar bayangan atau ekspektasinya tentang desa Badau. Kemudian, menceritakan desa Badau yang saat ini dia lihat kondisi sosial di sekolah maupun di masyarakat.
Aku memberikan waktu sekitar 1 jam lamanya sebelum masuk waktu salat Dzuhur agar mereka leluasa menuangkan apa yang ingin mereka tulis. Beberapa menit di awal, ruangan kelas seketika senyap. Hanya bunyi decitan kursi, kertas yang dibolak-balikkan. Namun, lama kelamaan mereka pun mulai bersuara karena bingung dan memilih mendiskusikan tulisannya dengan teman sebangkunya. Malah adapula yang terlihat berjalan-jalan bak mencari inspirasi atau sekadar membaca tulisan temannya yang lain.
Aku tidak ingin menghalangi mereka. Biarlah mereka melakukan apa saja yang mereka inginkan agar mereka mendapat inspirasi untuk menulis. Aku senang situasi seperti. Menulis dapat mengembangkan potensi akademik mereka.
