Oleh: Eka Hendry Ar
Setiap orang berharap usia karya dan pengabdiannya lebih panjang dari usia biologisnya. Ketika tanah pusara telah mengering, gagasan dan pemikiran tetap hidup dan berdialektika dengan pemikiran setelahnya. Atau, karyanya dapat dinikmati oleh para anak cucunya di kemudian hari.
Itulah yang disebut legacy atau at-turats. Secara etimologi, kata legacy berasal dari bahasa Latin abad 14, legatia dan legatus yang bermakna duta besar atau utusan (ambasador, envoy atau delegated person) dalam kaitan dengan kehendak. Kemudian berkembang menjadi kekayaan atau harta (property) yang diwariskan.
Kini, istilah legacy diterjemahkan dengan warisan, pusaka atau peninggalan. Namun secara esensi, legacy sebenarnya lebih kepada sesuatu yang abstrak seperti pemikiran, pengetahuan, kebijaksaan yang menjadi “duta atau utusan” dari satu generasi kepada generasi setelahnya. Kadang juga dalam bentuk ketauladanan (uswatun hasanah), seperti etos kerja keras, disiplin, konsistensi dan integritas (seperti kejujuran, keberanian, loyalitas dan tanggung jawab). Meskipun dalam bentuk fisik, namun esensinya pada pesan dan gagasannya yang abstrak. Intinya, setiap orang berharap ada legacy yang dapat ia wariskan kepada orang-orang di sekililingnya. Baik untuk masa kini, maupun di masa depan.
