Keberagaman dan kebermaknaan orang dalam memandang tahun baru sesuai kacamata masing-masing. Ada yang menyuarakan pesta pora dengan kemeriahannya, tidak sedikit juga yang lebih memilih untuk melakukan hal-hal yang jauh lebih bermanfaat. Seperti ritual ibadah dan yang lebih bermakna lainnya. Sedikit menyoal di negara Jepang, mengutip dari Qureta.com yang disuratkan oleh Thaufan Malaka, katanya orang-orang Jepang merayakan tahun baru dengan sakral, yaitu berkirim surat yang isinya ucapan selamat tahun baru dan mohon bantuan di tahun ini (tahun yang baru dimasuki). Lanjutnya, siang hari di tahun baru orang Jepang berziarah mengunjungi kuil-kuil. Festival ini kemudian popular dengan nama Hatsumode. Meminjam pernyataan Ian Reader (1991) masih dalam sumber kutipan yang sama, dalam Religion in Contempory Japan, 80 persen orang Jepang terlibat dalam perayaan sakral ini. Antusias mereka untuk memohon doa dan keberuntungan di tahun baru sangat tinggi.

Kebermaknaan tahun baru begitu banyak, hal ini dilatarbelakangi mozaik pemikiran yang warna warni. Dalam persepsi Islam ada yang menjadi polemik. Terutama dalam keikutsertaan perayaan yang diadobsi dari barat. Muncullah nanti berupa tasyabbuh atau menyerupai kaum kafir. Tasyabbuh memang tidak diperbolehkan di dalam Islam. Sebagaimana Hadits dari Said Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya. Kami para sahabat berkata, Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani? Beliau menjawab, Lantas siapa lagi?