in

Taman Tugu Pancasila

Taman Tugu Pancasila

Oleh: Nur Iskandar

Taman Tugu Pancasila di pusat Kota Pontianak ini indah dan strategis. Berada di depan Kantor Walikota sebelah kiri. Persis di hadapan Gedung Pos dan Giro yang kini jadi cagar budaya lantaran arsitektur Belanda. Unik. Cantik. Asyiiik. Taman Tugu Pancasila itu lengkap dengan lima sila dan lambang negara. Tidak semua kota di Indonesia punya taman Tugu Pancasila seperti Bumi khaTULIStiwa. Hal ini karena perancang lambang negara elang rajawali Garuda Pancasila adalah negarawan asal Kalimantan. Ia sultan ketujuh Kesultanan Qadriyah Pontianak: lahir 12/7/1913–wafat 30/3/1978 dan dimakamkan di Batulayang, Pontianak Utara pinggir Sungai Kapuas yang tidak jauh. Terlihat dari Taman Alun Kapuas–taman depan Kantor Walikota yang dulu tanahnya hibah Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie untuk Belanda berbilateral dengan kerajaan yang berdiri sejak 23/10/1771.

Taman Tugu Pancasila ini semula dibangun Sultan Hamid II Alkadrie mengenng gugurnya para syuhada, bunga kusuma bangsa atas perjuangan melawan Dai Nippon Jepang: 1941-1945. Jumlah korban tewas 21.037 jiwa. Itu kesaksian Kiyotada Takahashi, panglima Jepang di Pontianak ketika diadili sekutu. Saat dibangun pertama kali oleh Sultan Hamid II Alkadrie posisinya adalah Sultan dan Presiden Daerah Istimewa Kalimantan Barat. Negara berdiri sendiri. Namun hebatnya para pemimpin bumi khaTULIStiwa, arif dan bijak, sejak gabung dengan Negara Proklamasi melalui hasil Konferensi Meja Bundar, 27/12/1949 tugu asli pun menjadi Tugu Pancasila. Kearifan yang luar biasa. Sejarah dicatat dengan tinta emas. Semoga Sang Perancang Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila dan negarawan diplomat sejak Muntok, Konferensi Inter Indonesia 1 dan 2 hingga KMB, dapat ditetapkan Presiden RI Ir H Joko Widodo sebagai Pahlawan Nasional tahun ini. *

Baca Juga:  Kecerdasan Buatan dan Kesiapan Sumber Daya Manusia Indonesia

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

GUSDUR, NU dan Muhammadiyah

Gus Dur, NU dan Muhammadiyah

Menghimpun Fakta Sejarah Kalbar vs Jepang dalam Peristiwa Mandor Berdarah

Menghimpun Fakta Sejarah Kalbar vs Jepang dalam Peristiwa Mandor Berdarah