Community

Launching Buku di Pelaminan Sesi II: The Real Marsita Polling in Lope

Launching Buku di Pelaminan Sesi II: The Real Marsita Polling in Lope

H-1 tenggat desain masih ada yang mengirim karya, itu pun pakai kata-kata, “Nulis ndak, nanti merase dimakan Singa”. Bahkan, Sumama dan Siti Muslikhah yang termasuk sudah lama tak bersua karya diajak dan diteror dalam waktu 1 hari. Mahmud Alfikiri juga begitu, tak sampai 1 hari. Saya puji-puji mereka bahwa kemampuan menulis mereka di atas rata-rata pasti bisa menulis waktu singkat. Ada juga saya olok kalau kemampuannya “mati dini”, kemudian benaran dia tak mampu. Ternyata saya salah strateginya.

Saya menyusun tulisan berdasarkan kedekatan. Anggap saja levelnya: dekat, lumayan dekat, sangat dekat, dekat yang sudah tak ketulungan. Niatnya biar Sang Penerima Hadiah membaca terus dan terus. Dari halaman awal sampai halaman akhir. Saya jadi teringat saat malam pengantin yang saya lakukan adalah membaca buku hadiah. Haru dan lucu menjadi satu malam itu. Jadi, saya ingin Marsita merasakan khidmat membacanya.

Saya agak kesulitan mencari foto kawan satu angkatan ini. Harus mengeluarkan laptop lama yang sudah rusak, tapi ada hikmahnya juga Si Laptop mau siuman. Lalu mencari dokumen foto dari tahun 2011 sampai 2020, untung lah ada juga terdokumen di Facebook.