in

Mesjid Pemuda Sulthan Annashira

Mesjid Pemuda Sulthan Annashira

Oleh: Nur Iskandar

Bicara revolusi dan perubahan kita tidak perlu studi banding jauh-jauh. Cukup berkunjung ke Mesjid Sulthan Annashira.

Di mana? Di Ujung Amsterdam. Kubu Raya. Hanya 2 km dari pusat pertumbuhan baru Griya Korpri. Atau 8 km dari RSUD dr Soedarso. Dekat sangat.
Jika Anda berada di perempatan Markas Besar Polda Kalbar, hanya 7 menit. Insyaallah sampai. Tentu jika jalan Sungai Raya tidak ramai, sehingga padat merayap.
Mesjid ini unik. Diisi kawula muda. Didirikan oleh para pemuda. Semangat muda. Spirit api. Menyala. Menjadi-jadi.

Ini mesjid seminggu jadi. Sejak tancap tiang hari, dalam 4 hari sudah Jumatan. Kini dalam hitungan bulan sudah tambah dua asrama santri, genap dengan panggung sebagai pentas kreasi seni dan reliji serta keramba ikan lele. Ribuan ikan berenang. Seolah turut merayakan zikir, pikir, ikhtiar. Iman, ilmu, amal dan ikhlas.

Sejak Idul Qurban hingga Maulud tahun 2020 ini sudah 4 hafidz 30 juz dicetak di sini. Kini ada 20-an santri bergelut program hapalan dan amalan Quran. Ini revolusi.
Kenapa? Sebab dulu, jika mau mondok, orientasi kita Jawa dan Sumatera bahkan Al Azhar, Kairo. Kini, hadir Sulthan Annashira. Dalam 11 bulan! Hafidz. Sulthan Annashira punya sistem. Punya metode. Punya program.

Mesjid Pemuda Sulthan Annashira 2

Semula lahan gambut dipenuhi perdu. Kini zikir dengan lafadz dan makhraj huruf yang melelehkan air mata kekhusukan. Ini ikon wisata religi baru yang kita miliki. Oase di tengah gersangnya kehidupan luar yang terik, panas, mematikan. Kita sejuk dengan wudhu. Pandangan mata lembut. Tegur sapa mulia. Tolong menolong. Tempat kebaikan bersemi dan memberikan kita cermin. Bahwa hidup ini mau cari apa? Lahir diazankan. Mati dishalatkan.

Baca Juga:  Kisah Wakaf yang Kehilangan Wakif dan Nazirnya

Dalam setahun ini, Ustadz Berri Elmakki dkk bermodalkan mimpi, niat dan tekat. Dalam bimbingan Yayi Munzalan Mubarakan KH Lukmanul Hakim, pelan pelan rupiah minus jadi telus. Jadi bonus. Jadi mulus. Fulus mengalir terus ibarat 1 biji tumbuh 100. Wallahu yudhaifu limay yasyaa’. Tuhan lipat gandakan tanpa batas.

Dulu Berri Elmakki mencari lahan kosong pusat Kota khaTULIStiwa, tiada ada rupanya. Dapatlah wakaf di pinggiran kota Pontianak, Kubu Raya. Tetapi tak kalah dengan Mesjid Raya Mujahidin, Sulthan Annashira sudah jadi pusat studi banding dari Jawa. Kampoeng English Gersik pun mampir kemari. Sajadah Fajar pun main kemari.
Dahsyat. Dahsyat jika pemuda berwakaf. Mewakafkan jiwa raga bagi ummat.

Kekuatan Tuhan tanpa batas untuk memberikan bantuan. Itulah Sulthan Annashira. Refleksi 28/10/1928-2020 bagi pemuda yang mau berubah. Mau bersumpah. Bahwa hidup ini hanyalah Abdullah. Mengabdi hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Allah SWT. *

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

Tengku Mulia Dilaga Turiman Fachturahman Nur

Testimoni Hut 1/4 Abad Arwana dari Peneliti Sejarah Hukum Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila

Arwana Festival Nadi Khatulistiwa

Arwana, Band Spesialis Krisis?