Begitu kami selesai makan siang, klotok nampak berjalan lambat menuju dermaga. Setelah sampai, saya kembali ketar-ketir. Klotoknya kecil, dan sepertinya sudah berumur. Raungan mesinnya saja sudah ogah-ogahan. Bagaikan suara manusia yang sedang radang tenggorokan, parau.
Tak sampai di situ. Saat harus menaikkan motor ke klotok, nahkoda tak turun tangan. Penumpang harus mendorong sendiri motor ke atas klotok. Tentu saja kami terkejut. Tak pernah-pernah begini. Ngeri. Salah perhitungan, nyebur.
Akhirnya, ada orang yang sedang menunggu motor tambang lewat yang membantu kami menaikkan motor.
Awalnya, saat kami harus ke kantor Desa Kampung Baru, berharap memiliki pilihan jalan selain jalur Jangkang-Sungai Bulan. Tapi setelah menghadapi beberapa kondisi hari ini, saya jadi berpikir berulang kali. Bahkan, kami urungan niat melalui jalur ini. Semoga saja, nanti akan ada perbaikan prasarana dan pelayanan di penyebrangan ini. Tak ada lagi cerita naik turun klotok, mendorong motor sendiri. (*)
