in

Prof Yetrie Ludang–Wanita Dayak, Guru Besar Teknologi Hasil Hutan–Khusus Pinang Merah

Prof Yetrie Ludang


Oleh: Masri Sareb Putra

Kita, sejauh yang saya telisik, saat ini memiliki 37 profesor Dayak. 5 di antara mereka adalah perempuan, yakni: Pertama, Marjati Sangen, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Pakar bidang manajemen. Kedua, Kuwing Baboe, Universitas Palangka Raya. Pakar bidang pendidikan. Ketiga, Madeline Berma, University Kebangsaan, Malaysia. Pakar bidang ekonomi-sosial, pengentasan kemiskinan. Keempat, Wenefrida Ida, Amerika Serikat. Pakar bidang padi, dan kelima, Yetrie Ludang, Universitas Palangka Raya. Pakar bidang Teknologi Hasil Hutan, khususnya pinang merah.

Yetrie Ludang dilahirkan di Palangka Raya pada 17 Juni 1963. Meniti karier di dunia akademik Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya sejak 1987. Setelah cum cukup, ia pun dikukuhkan menjadi professor. Dengan demikian, ia mencatkan diri sebagai salah satu professor termuda wanita asli Dayak Ngaju.

Pada 1981, ia menempuh pendidikan Bidang Teknologi Hasil Hutan Fak. Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat (UNLAM) Banjarbaru, dan lulus 1987. S-2 bidang Teknologi Hasil Hutan UNLAM Banjarbaru 2002, lulus 2004. Belum puas sampai di situ, Yetrie meneruskan pendidikan S-3 Teknik Lingkungan spesifik Fitoteknologi ITS Surabaya pada 2009 dan meraih gelar tertinggi di dunia akademik itu, “Doktor” pada 2013.

Mendedikasikan diri di dunia akademik, tidak membuat Yetrie berada di menara gading. Sebaliknya, Tridarma Perguruan tinggi yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat memicunya memberikan sumbangsih nyata bagi masyarakat. Ilmu yang diperolehnya, coba didalami dan diapllikasi Yetrie melalui penelitian. Kemudian, temuan itu diabdikan dan disumbangkannya pada masyarakat.
Setelah Tridarma itu mencapai poin cukup, Senat Universitas pun melapangkan jalan baginya meraih jabatan tertinggi di dunia akademik. Pada 2007, jabatan akademik tertinggi, Profesor bidang Klimatologi dan Manajemen Industri diraihnya.

Baca Juga:  Prof. Irwan Abdullah Resmikan IRE Shabab El-kahfi

Ia mencatatkan diri sebagai profesor termuda dari tiga profesor wanita yang ada di Universitas Palangka Raya sekarang ini. Pun patut berbangga, data di Dikti tahun 2007 pada saat berusia 45 tahun merupakan Profesor wanita termuda untuk seluruh perguruan tinggi Indonesia. Dan yang tidak kalah langkanya, saat pengukuhan Profesor dilaksanakan pada tanggal 17 Juni 2007, tepat pada tanggal dan bulan kelahirannya, sesuatu yang tak terduga, dan momen seperti ini mungkin tidak pernah dirasakan oleh rekan-rekan terdahulu maupun sekarang saat pengukuhan profesornya.

Pinang Merah ternyata memiliki nilai daya serap CO2 tinggi yang mampu mengatasi emisi CO2 untuk mengatasi mitigasi perubahan lingkungan.

Kegiatan lain, selain mengajar di Jurusan kehutanan juga di Jurusan Arsitektur Fak. Teknik Universitas Palangka Raya, membimbing mahasiswa S-2 PSAL, membimbing mahasiswa S-3 Teknik Lingkungan ITS Surabaya, pembicara lokal / nasional pada kegiatan pelatihan, magang, lokakarya, seminar berhubungan dengan keilmuan maupun non keilmuan.

Untuk meningkatkan kemampuan di bidang penulisan ilmiah, sejak tahun 2007 setiap tahun karyanya diterbitkan di jurnal berskala internasional yang mendapat pengakuan. Selain itu, sejak tahun 2011 setiap dua tahun sekali menerbitkan buku berskala internasional. Saah satu bukunya yang dikenal luas adalah KERAGAMAN HAYATI RUANG TERBUKA HIJAU BERBASIS PENGETAHUAN ULAYAT DI KOTA PALANGKA RAYA (Biodiversity of Green Space Area Based on Indigenous Knowledge in Palangka Raya City), 2017.

Baca Juga:  Agroforestry untuk Melawi

Kegiatan lain adalah sebagai peneliti. Temuan yang cukup unik tahun 2013. Dari 12 tumbuhan yang diuji Pinang Merah ternyata memiliki nilai daya serap CO2 tinggi yang mampu mengatasi emisi CO2 untuk mengatasi mitigasi perubahan lingkungan.
Seperti diketahui, pinang perah merupakan tumbuhan yang dilindungi dan sakral bagi masyarakat Dayak, khususnya Kalteng. Dari sisi ulayat, mengandung mitos di samping keindahannya memiliki warna merah serta keunggulan lainnya, sangat cocok ditanam untuk RTH kota Palangka Raya maupun Kabupaten yang ada di Kalteng.

Ke depannya nanti, pinang merah bisa dipatenkan untuk khas Kalteng. Akan tetapi, dengan publikasi dan penyebarluasan bahwa temuan ini asli dari profesor wanita Dayak maka pihak lain akan mikir dua kali sebelum mematenkannya.

Yetrie salah satu Tim Streering Commitee yang menginisiasi dan menjadi moderator Kongres Internasional I Kebudayaan Dayak, 3 – 6 juni 2017 di Bengkayang – Kalimantan Barat.

Perempuan yang gemar mengenakan tutup kepala khas Dayak itu juga aktif di Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Tengah.

Saat ini, sang profesor memangku amanah sebagai Direktur Program Pascasarjana Universitas Palangka Raya.

(Penulis adalah pegiat literasi Dayak kelahiran Sanggau-Kalbar dan kini menetap di Jakarta).

Written by teraju.id

IMG 20210207 WA0063

Muhammadiyah Bergerak–Produktifkan Lahan Wakaf dengan Kebun Agronomi

hpn 2021

Catatan Kritis Hari Pers: Bedakan Mana yang Profesional dan Abal-abal