Aku menjelaskan pada ibu dan ayahku tentang PBM (Pekan Bakti Mahasiswa). Aku menjelaskan inilah sebabnya aku tak bisa pulang, aku ingin sekali mengikuti kegiatan kampus ini. Ibu berkata, “Ikutlah tak apa”. Aku pun menjawab, “Tapi ada ongkosnya Buk, ongkosnya 120.000”.
Ibu menjawab, “Kau ikutlah, di situ nanti kau akan dapat pengalaman besar yang tak sebanding dengan Rp120.000 itu”.
Aku merasa senang sekali memiliki orang tua seperti mereka karena mengerti dengan keadaanku.
Nenekku bertanya , “Nuan PBM ya di mona?” Nenek berbahasa ulu.
“Aku PBM di Ambawang, Nek”.
Nenek menjawab, “Baet-baet dinun (baik-baik di sana)”.
Dari kegiatanku di atas aku menyimpulkan pulang kampungku tunggu sudah liburan lebaran, no problems, semangat dalam menjalani aktivitas masing-masing. (Jur. Akuntansi Syariah, IAIN/CM)
