Community

Rindu Kampung

Rindu Kampung

Oleh: Winda Wulandari

Pada tanggal 22 Januari aku paling pertama bangun di kosku. Sejenak aku masih terbaring dan rasanya aku baru melewati mimpi yang sangat indah. Aku terbangun dan mengambilkan wudhu’ untuk membaca Alquran pada jam 03:30 setelah aku membacanya aku pun bergegas mengumpuli pakaian kotorku, kemudian aku rendam. Setelah salat Subuh aku baru menyucinya.

Pada saat aku akan menjemur pakaianku beberapa menit aku termenung merasakan kesejukan embun pagi, dan di situ juga aku teringat dengan kampungku. Di sana selalu aku rasakan embun pagi, kesejukan, kenyamanan, kurangnya asap polusi.

Jam 8:30 aku berangkat kerja, tak jauh dari kosku. Kawan-kawan di kos menanyakan, “Kau ‘kan dah libur ngapa tak balek?”

“Bukan tak mau balek, ongkosnya besar,” aku cakap.

Jadi aku memilih kerja dari pada aku harus pulang kampung. Bukannya tak rindu dengan keluarga, kalau dijelaskan pasal rindu mungkin tak pernah cukup ataupun puas.

Ingin sekali aku pulang karena aku sudah lama sekali di sini, sudah sekitar 7 bulan lebih. Banyak yang harus aku pertimbangkan jika mau pulang, ongkos bus, aku juga ikut PBM, terus pajak motor mati, dan bayar kos. Otakku akhir-akhir ini dipenuhi dengan uang karena semua yang aku sebut di atas tadi memerlukan uang.