“Hujan, Rindu dan kenangan,” Yuni mulai membaca.
Perhatian kelas tertuju padanya, satu dua mahasiswa menyorakkan judul tulisan.
“Kulit menyerah dalam kedinginan, sementara di sebarang sana sederetan jajanan menggoda selera, bakso, mie ayam. Ah, itu adalah makanan nikmat dikala hujan. Beruntung aku kehilangan gairah karena bau busuk yang datang dari selokan air. Selamatlah kantongku dari rayuan perut,” Yuni mencoba menggunakan panca indranya penulisan.
Kemampuan Yuni merangkaikan kalimat, menggambarkan suasana hujan yang membuatnya telat pulang ke rumah. Tidak hanya Yuni, sejumlah mahasiswa lainnya seperti Nurhidayah, Yumi, Ilham, Mat Wahed, Shela Yunita, Nisa saya rasa pantas diajungi jempol.
Perkembangan mahasiswa peserta Rumah Literasi FUAD di kelas Rumi menunjukkan peningkatan, baik dalam kecepatan menulis maupun merangkaikan kalimat. Shela Yunita dalam waktu 15 menit ia menulis lancar tanpa hambatan sehingga mengahasilkan satu setengah halaman, sementara Nuraini dalam waktu 45 menit mampu menyelesaikan cerpen sepanjang empat setangah halaman.
Pemberian materi penulisan kreatif diharapkan dapat menambah pengetahuan mahasiswa dalam menuangkan ide dan gagasan dalam sajian kreatif. (*)
