Proses kreatif diakuinya berlangsung cukup lama delapan tahun dan diakuinya juga bahwa hasil kerjanya merupakan kerja bareng-bareng, dalam artian proses pendalaman dengan bertanya kepada pihak terkait. Wajar tindakan yang diambil sebab masyarakat yang diceritakan dalam novel Danum tidak memiliki ikatan emosional dengan Abroorza A.Yusra. Cara yang ditempuh ini kemungkinan besar demi memeroleh internalisasi mendalam sehingga pengungkapannya terbangun spirit yang semestinya.

Awal novel ini berbentuk laporan dan dengan tangan dinginnya berekranisasi menjadi sebuah novel. Terkait dengan perspektif ekokritik maka Abroorza A.Yusra dengan sigap menimpali bahwa masyarakat di dalam novel tersebut memiliki cara dalam menjaga keperawanan alam sekitarnya melalui kepercayaan dan adat istiadat yang dianutnya. Ternyata, masyarakat sekalipun di hulu Pulau Kalimantan Barat memiliki kerangka berpikir sendiri untuk menjaga habitatnya yang telah memenuhi segala hajat kehidupannya. Menurutnya, kerangka berpikir itu didapatkannya melalui penempaan hidup bersanding dengan alam sekitarnya.
