Community

Siang Hari Yang Panas

Siang Hari Yang Panas

Dia kutanya: Mengapa Anda menangis? Barangkali ada yang bisa kubantu? Ayo, Anda mau minum kopi dengan saya di cafè seberang sana? Ayo, mau makan makanan Italia di restoran seberang cafè sana? Anda mungkin mau minum air? Dan seterusnya kutawari hal-hal. Karena barangkali dia haus atau lapar.

Setelah kusebut bahwa aku tetangga, tinggal tak jauh dari taman ini dan profesiku apa, maka akhirnya dia mulai bercerita panjang lebar. Umurnya masih 27 tahun dan berparas cantik. Dia sempat bertanya dari mana aku berasal. Setelah kujawab dari Indonesia, dia tersenyum senang.

Dia berterima kasih telah disapa dan bercerita bahwa dia baru saja diputuskan sang pacar yang sudah hidup bersamanya selama dua tahun. Mereka baru saja bertengkar dengan sengit. Dia pun kini harus pergi keluar dari apartemen, diusir sang kekasih dengan kemarahannya yang sangat.

Aku terus duduk di sebelahnya sambil menunggu kesedihannya lebih mereda. Sambil kuajak ngobrol terus, aku pun bergurau ke sana ke mari menghiburnya. Bagaikan seorang psikolog, aku berhasil meredakan kesedihannya!

Lama-lama dia pun tak menangis lagi. Hanya kadang saja. Unek-uneknya dia keluarkan. Dan akupun bercerita tentang rumitnya kehidupan, namun juga tentang indahnya kehidupan. Kutunjukkan rasa simpatiku kepadanya. Kuhindari kata-kata yang berbau menasihati.