Surat untuk pongo hermaneus di atas adalah puisi “Sepucuk Surat” yang ditulis oleh penyair Nano L. Basuki. Ia bersama penyair lainnya, Asriyadi Alexander Mering (dalam buku ini memakai nama Wisnu Pamungkas) dan Pay Jarot Sujarwo, serta perupa Zulkiflie MS tergabung di dalam komunitas Mata Borneo. Mereka memberikan hadiah khusus dalam perayaan 50 tahun kiprah konservasi WWF di Indonesia, berupa buku berjudul “Sarang Enggang”, yang berisikan kumpulan 50 sajak dan sketsa lingkungan.
Jika di tulisan kemarin aku bercerita tentang proses dan hasil dari upaya menuliskan kerja-kerja konservasi dan pembangunan berkelanjutan WWF di banyak lokasi di Indonesia dan menerbitkannya menjadi sebuah buku, alhamdulillah kali ini giliran para penyair dan perupa Kalimantan Barat yang memberikan hadiah khusus kepada kami di WWF.
Buku ini hadir sebagai refleksi keprihatinan bersama terhadap masa depan Borneo, nama yang lebih populer dari pulau Kalimantan di kancah global, akibat pembangunan yang tidak memperhatikan ekologi serta adat dan budaya masyarakat Kalimantan. Hal ini tentunya menjadi sebuah ironi, mengingat hingga akhir abad 19, pulau terbesar ketiga di dunia ini masih dikenal sebagai hutan hujan tropis dan surga bagi beragam flora, fauna, dan keanekaragaman hayati lainnya yang ada di dalamnya.
