in

Surat untuk Pongo Hermaneus

Sepucuk Surat

WhatsApp Image 2020 08 15 at 11.55.05

Oleh Hermayani Putera

saudaraku pongo hermaneus,
sepucuk surat ini benar kutulis di antara pucuk pohon
yang cemas akan nasib dua tiga purnama ini
lihatlah, gerombolan penebang telah datang
dengarlah, suara mesin tebang bak mengerang
bukankah cemas para pohon adalah cemasku?
tidakkah benar masa depan bangsaku tergantung
pada rimbanya pohon Kalimantan Barat?

saudaraku pongo hermaneus,
sepucuk surat ini kutulis dengan air mata
kukirim lewat desau angin siang hari
tak mampuku berlari bagai engkau
tak mampuku melawan bagai engkau

tulislah ini surat dengan bahasamu
lalu kirimkan pada mereka yang berhati mulia

… aku takut …

saudaramu
pongo pygmaeus

Pontianak, 2011

September 2012. Jika membaca judul di tulisan ini jangan beranggapan ada sub-spesies baru dari orangutan Borneo ya. Orangutan adalah satu-satunya anggota keluarga kera besar yang ditemukan di Asia, sedangkan semua anggota keluarga kera besar lainnya hidup di Afrika, yaitu simpanse, gorilla, dan bonobo. Para ahli primata menjelaskan ada tiga spesies orangutan. Orangutan Borneo (Pongo pygmaeus) yang tersebar di seluruh pulau Borneo, baik di Indonesia (Kalimantan) dan Malaysia (Sabah dan Sarawak), orangutan sumatera (Pongo abelii) yang berada di pulau Sumatera, dan orangutan FH Tapanuli (Pongo tapanuliensis) asli dari Tapanuli Selatan.

Surat untuk pongo hermaneus di atas adalah puisi “Sepucuk Surat” yang ditulis oleh penyair Nano L. Basuki. Ia bersama penyair lainnya, Asriyadi Alexander Mering (dalam buku ini memakai nama Wisnu Pamungkas) dan Pay Jarot Sujarwo, serta perupa Zulkiflie MS tergabung di dalam komunitas Mata Borneo. Mereka memberikan hadiah khusus dalam perayaan 50 tahun kiprah konservasi WWF di Indonesia, berupa buku berjudul “Sarang Enggang”, yang berisikan kumpulan 50 sajak dan sketsa lingkungan.

Baca Juga:  Kisah Masri Sarep Putra—Pegiat Literasi Dayak di Jakarta yang Luput Naik SJ-182 untuk Narsum Ruai TV

Jika di tulisan kemarin aku bercerita tentang proses dan hasil dari upaya menuliskan kerja-kerja konservasi dan pembangunan berkelanjutan WWF di banyak lokasi di Indonesia dan menerbitkannya menjadi sebuah buku, alhamdulillah kali ini giliran para penyair dan perupa Kalimantan Barat yang memberikan hadiah khusus kepada kami di WWF.

Buku ini hadir sebagai refleksi keprihatinan bersama terhadap masa depan Borneo, nama yang lebih populer dari pulau Kalimantan di kancah global, akibat pembangunan yang tidak memperhatikan ekologi serta adat dan budaya masyarakat Kalimantan. Hal ini tentunya menjadi sebuah ironi, mengingat hingga akhir abad 19, pulau terbesar ketiga di dunia ini masih dikenal sebagai hutan hujan tropis dan surga bagi beragam flora, fauna, dan keanekaragaman hayati lainnya yang ada di dalamnya.

Burung enggang, bersama pohon tengkawang, adalah ikon Provinsi Kalimantan Barat. Ikon adalah identitas, dan identitas merupakan perwujudan dari sebuah eksistensi. “Sarang Enggang” dipilih sebagai judul buku antologi puisi dan sketsa ini adalah penegasan perlunya ikhtiar penyelamatan bersama terhadap Kalimantan, ‘sarang’ dari hutan, sungai, danau, laut dan segenap makhluk hidup yang ada di dalamnya

Dalam pandangan Mata Borneo, judul “Sarang Enggang” tidak berarti seluruh puisi dan sketsa yang berada dalam buku ini hanya berkisah tentang burung langka tersebut. Ada harapan mulia agar keberagaman tema lingkungan yang ada di dalam buku ini dapat menumbuhkan dan menyemai kepekaan estetik bagi para pembaca untuk terus menyelamatkan Kalimantan melalui cara masing-masing, dan dimulai dari lingkungan terdekat mereka.

Baca Juga:  Kunci Sukses Wakaf Produktif ketika Jatuh di Tangan Nazir Profesional--MAK…

Karenanya, karya puisi dan sketsa bukan sekadar upaya mengabadikan gagasan dan pikiran penulis dan perupanya. Dalam beberapa diskusi antara WWF dan Mata Borneo, ada mimpi bersama kami bahwa karya kolaborasi ini bisa ikut mengubah dunia, yang dimulai dari mengubah cara pandang (point of view) terhadap Kalimantan, baik oleh orang luar maupun terutama oleh masyarakat dan generasi muda Kalimantan itu sendiri.

Pesannya jelas: cukuplah sudah menguras habis isi perut bumi Kalimantan dan meminggirkan masyarakat adat dan lokal Kalimantan atas nama megaproyek yang bernama pembangunan. Silakan memanfaatkan kekayaan alam Kalimantan dengan cara yang berbudi dan praktek-praktek lestari.

Buku ini juga merupakan bagian dari gerakan literasi agar semakin banyak buku yang menulis dan mengupas tentang Kalimantan. “Sarang Enggang” ingin bersanding, tidak berpretensi bertanding, dengan buku karya ilmiah lainnya tentang lingkungan hidup yang umumnya lebih banyak dikonsumsi para peneliti, dosen, mahasiswa, atau yang sedang menyelesaikan tugas akademik mereka. “Sarang Enggang” berharap bisa menjangkau khalayak lebih luas, agar tersentuh hati dan berubah cara pandangnya tentang Kalimantan.

Mengubah cara pandang dan menginternalisasikan gagasan pentingnya melestarikan lingkungn, alam dan budaya Kalimantan harus menjadi sebuah gerakan. Tidak boleh bosan mengulang, tidak pula jemu menawarkan cara baru yang lebih inovatif dan kreatif.

Membangun kesadaran kolektif masyarakat dan generasi muda di Kalimantan Barat tentang hutan hutan, tentang semesta, dan lingkungan hidup di sekeliling mereka memerlukan upaya persuasif yang mampu menyentuh hati dan menyentuh kalbu tanpa kesan memaksakan atau menggurui.

Salam Lestari, Salam Literasi

#MenjagaJantungKalimantan,#KMOIndonesia,#KMOBatch25,#Sarkat,#Day8,#hermainside#,SalamLestariSalamLiterasi

Written by teraju.id

hidup cara nabi

Kiat dari Nabi: Hidup Aman, Sehat dan Nyaman

WhatsApp Image 2020 07 27 at 10.04.19

Hari Ini Hendri Lamiri Tiba di Bumi khaTULIStiwa – Jumpa Pers The Eagle Equator