Community

Telaah Tapal Batas

Telaah Tapal Batas

Peluang Fokus Pengkajian
Secara subjektif, beberapa kasus yang penulis dapatkan tatkala berada di Temajuk barangkali bisa mewakili untuk dijadikan telaah mendalam bernuansa ilmiah.
Pertama, Permasalahan konservasi penyu yang kian hari habitatnya semakin sedikit. Dalam kesempatan kali pertamanya, penulis yang tergabung dengan rekan organisasi pecinta alam mengunjungi tempat penangkaran penyu. Pengurus penangkaran tersebut, akrab dipanggil pak Tam, menyatakan bahwa keberadaan penyu di kecamatan Paloh (termasuk desa Temajuk) umumnya sudah mengalami kelangkaan. Ini diakibatkan oleh masyarakat setempat yang mengambil dan memperjualbelikan telur penyu secara illegal. Padahal sudah ada aturan dari pemerintah setempat untuk tidak memperdagangkan telur penyu. Demikian pula yang dikatakan oleh Jamri salah satu warga desa Temajuk saat diwawancarai penulis.
“Mengambil telur penyu merupakan pelanggaran, siapa saja yang ketahuan saat mengambil telur penyu ketika itu pula ia akan dipergoki warga dan rambutnya digunduli habis” ungkapnya.
Ironisnya, masih ada beberapa warga yang menyimpan telur penyu di rumahnya dan dikonsumsi. Kejadian ini dialami langsung oleh penulis, ketika itu penulis sedang silaturahmi kerumah salah satu warga dan dihidangkan telur penyu yang sudah direbus. Pertanyaannya adalah dimana letak implikasi peraturan yang selama ini dikatakan oleh pak Tam selaku petugas penangkaran penyu dan Jamri sebagai warga setempat serta kesadaran salah satu warga yang dikunjungi penulis.
Kedua, kondisi destinasi wisata dan sampah yang berserakan. Sampah yang berserakan memang sudah lumrah menjadi persoalan tempat pariwisata dimanapun berada sehingga membutuhkan manajemen dan pengelolaan yang mumpuni. Misalnya saja di tugu Garuda padahal sudah ada tempat sampah yang tersedia, kurangnya tingkat kesadaran masyarakat dan pengunjung menjadi komponen yang perlu untuk ditingkatkan kembali.
Ketiga, Tingkat persaudaraan Melayu Temajuk dan Melayu Melanao Malaysia. Melayu Kalimantan Barat dan Melayu Malaysia merupakan suku yang masih dalam satu rumpun. Acara pernikahan Melayu Malaysia dalam acaranya pun mengundang dan melibatkan Melayu yang berada di Temajuk. Bahkan menurut Qunut saat ditanyai penulis mengatakan bahwa Melayu Malaysia kalau hendak membuat hiburan Band (hiburan saat pernikahan yang dilaksanakan malam hari dengan menghadirkan biduan), mereka sering mengundang Band dari Melayu Sambas.
Permasalahan lain yang terjadi di desa Temajuk dapat kita perhatikan dari apa yang telah dijabarkan Widyaningrum dkk. Bahwa layanan pendidikan, kesehatan dan pangan masih sangat memprihatinkan karena tidak dapat dinikmati masyarakat Temajuk dengan layak. Bahkan dalam beberapa hal masih belum memenuhi standar minimum yang telah ditetapkan pemerintah sendiri. Uniknya, walaupun kondisi kesejahteraan mereka berada dibawah standar yang ada, tetap saja nasionalisme masyarakat Temajuk dapat dikatakan masih tinggi, masyarakat pun memaklumi kondisinya yang tinggal diperbatasan dan jauh dari berbagai akses. (lihat Widyaningrum dkk, 2016: hal 35).
Masih banyak lagi persoalan-persoalan yang tersebar di wilayah perbatasan Temajuk yang pantas dan penting untuk diangkat dan dikaji agar terjaga eksistensinya dengan harapan meningkatkan kepedulian pemerintah terhadap kondisi kesejahteraan perbatasan. Baik dari ekonomi, pendidikan, agama, sosial, budaya, politik maupun disiplin ilmu lainnya.