Mereka menepas-nepaskan air topung tawar di tempat kejadian serta orang-orang yang hadir dalam ritual sambil mendoakan keselamatan. Penepasan dilakukan dengan menggunakan tiga jenis daun yang diikat menjadi satu, yakni daun memalu, daun juaran dan daun sabar.
Selain makanan yang disediakan oleh keluarga yang berduka, sejumlah masyarakat sengaja membawa makanan dan minuman dari rumahnya untuk dibacakan doa tolak bala, kemudian dimakan bersama di tempat pembacaan doa. Makanan yang dibawa harus dihabiskan, mereka meyakini bahwa makanan tersebut tidak boleh dibawa pulang ke rumah dengan kekhawatiran bahwa bala tersebut akan ikut pulang ke rumah, jika tidak habis mereka membuang makanan tersebut di tepi jalan.
Ya, menurut sejumlah orang yang kutanyai bahwa ritual ini dilakukan untuk menolak bala bahaya atau kemalangan yang akan menimpa, mereka memohon agar dihindarkan dari kesulitan hidup.
