Lantas, apa salahnya? Toh, namanya juga pameran kan? Tetapi, bukan itu yang hendak saya soroti. Dari sekian banyak mahasiswa, separuh saja tidak sampai yang menghampiri pameran atau kegiatan ini. Lagi-lagi soal kualitas kita, kebiasaan kita, lingkungan kita. Nyatanya memang sedikit yang berminat membeli buku apalagi membaca, di samping bukan kebiasaan pun oleh ketidakmapuan merogoh kocek nan dalam. Cuma melirik, berfoto, dan sebar ke media sosial dengan caption “mari budayakan membaca, membaca jendela dunia, membaca bla bla bla” cukup di situ. Senyatanya kita malas sejadi-jadinya.
Lalu bagaimana dengan paragraf pertama data UNESCO tadi, sederhananya dari 10 orang hanya 1 orang yang membaca. Benarkah telah terbantahkan kini, Bisa jadi iya, atau bisa juga tidak. Jika demikian bisa dibilang kita menyadari ketidaksadaran.
Entahlah, saya akhirnya bingung sendiri. Yang jelas, itulah kenyataan yang ada menurut kacamata saya. Anda berbeda? Silakan saja.
Mari kita membaca sendiri sejauh mana bacaan kita?
Pontianak, di antara sepoi kipas masjid, 30 April 2019
