Di malam yang terang penuh gemerlap bintang, ditemani secangkir kopi panas dan gorengan cempedak yang kami petik dari kebun, bapak Jumares menemani perbincangan serius tapi berbobot kala itu. Ia mulai bercerita tentang catatan perjalanan Desa Kuala Mandor B yang telah terabadikan oleh waktu. Menurut keterangannya bahwa Desa Kuala Mandor B ini memiliki empat dusun yang saling menjayakan. Bagaikan empat sekawan yang saling melengkapi satu sama lain.
Bapak terdiam sejenak sembari mengingat nama dusun-dusun yang ada di desa Kuala Mandor B. Aku hanya menatapnya dan bersiap untuk mencoret lembar demi lembar buku catatanku. Tak lama, bapak membuka suara. Di desa ini ada empat dusun, suguhnya padaku. Ia menjelaskan kepadaku bahwa keempat dusun ini saling bersinergi satu sama lain. Dusun Pelita Jaya, Dusun Maju Jaya, Dusun Jaya Sakti, dan Dusun Selamat Jaya. Sontak aku berucap, kok berakhiran Jaya semua?
Bapak hanya tertawa sambil terkekeh, sedangkan ibu yang duduk di sayap pintu hanya menyimpulkan senyum. Suara jangkrik menemani kisah malam ini, kunang-kunang yang tak pernah kulihat di kota juga mulai memunculkan diri. Ku kira hewan satu itu telah punah. Lantas aku menyimpulkan secara sepihak, bahwa nama dusun-dusun tersebut sengaja berakhiran kata JAYA supaya dusun tersebut benar-benar jaya.
