Ada sebuah ungkapan di dalam piagam Jakarta “…mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan…” negara ini adalah negara yang besar dengan jumlah penduduk yang luar biasa banyak dan beragam, negara pluralitas. Ternyata kita baru sampai didepan pintu gerbang kemerdekaan belum memasuki gerbang kemerdekaan. Ini sekedar kontemplasi penulis di dalam memahami tabir kemerdekaan yang disingkap dengan sudut pandang subjektif. Karena itu, kebenarannya pun relatif.
Sebagai seorang yang kadangkala memperhatikan kondisi negara kita, memang rasanya begitu memprihatinkan. Pemimpin dan yang dipimpin tak selaras didalam mengonsepkan diri pada tujuan bangsa. Fenomena pemimpin korupsi misalnya, seakan sudah menjadi wabah penyakit pemerintahan kita bagai dipenuhi sandiwara layaknya sinetron Televisi. Pun rakyatnya tak henti-hentinya melontarkan caci maki kepada pemerintah melalui media massa bahkan terjun langsung seperti demonstrasi. Demonstrasi yang marak terjadi tak bisa dipungkiri kenyataan lapangan membuktikan justru menambah kekacauan dan perpecahan. Kemacetan jalan, kerusakan gedung, luka-luka hingga kematian tak lagi mengherankan dinegeri kita.
Sebagai rakyat, penulis mencoba merefleksikan diri bahwa kita seharusnya tidak kemudian mencaci pemerintah, membongkar semua aibnya sebagaimana demonstrasi yang ada. Mungkin semangat membara ketika ditengah-tengah demonstrasi sehingga ungkapan kotor pun tak sadar keluar dari lisan. Bukankah itu justru membuat buruk diri kita sendiri, citra agama dan norma sirna akibatnya.
