Lomba yang diadakan di aula juga tidak kalah seru. Pembacaan puisi dan pantun berdendang (tundang) berlangsung sangat meriah. Walaupun terdapat beberapa gangguan, namun hal tersebut dapat diatasi. Panitia penyelenggara acara yaitu mahasiswa merasa sangat terpukau karena lomba yang mereka adakan disambut dengan antusias. Bagaimana tidak? Ada siswa yang sempat pingsan karena didiskualifikasi panitia gara-gara sudah berkali-kali dipanggil tapi tidak datang untuk membacakan puisi.
Ternyata dia mendapatkan informasi yang salah tentang lokasi lomba pembacaan puisi. Peserta tundang sampai menyewa baju Melayu demi menampilkan persembahan terbaik. Bait demi bait pantun yang mereka dendangkan dalam bahasa Melayu Pontianak mampu membuat penonton berseloroh karena berisi hiburan, nasihat, dan sindiran. Iringan gendang, marakas, dan tamborin juga mampu membuat penonton bahkan juri ikut bergoyang.

Acara demi acara terselesaikan dengan baik, lalu ditutup dengan pembagian hadiah dan foto bersama. Panitia acara yaitu mahasiswa KKN kelompok 2 tidak mau kalah, mereka berswa foto ria di depan spanduk. Sebagai mahasiswa, mereka bangga karena berhasil melaksanakan kegiatan pengabdian yang bertema “literasi bangsa” dan menjalankannya di SMA Negeri 2 Sungai Kakap. Sebelum matahari benar-benar jingga dengan tibanya senja, mereka berkemas dan bersiap-siap pulang menuju pusat kota Khatulistiwa dengan perasaan gembira.
(Siwi Annisa, FKIP Untan)
