Featured

“Aku Cinta Keluargaku-Aku Cinta Indonesia” Pelajaran AFS Belgia-Indonesia

“Aku Cinta Keluargaku-Aku Cinta Indonesia” Pelajaran AFS Belgia-Indonesia
Kika: Bunda, Saya, Sanne, Elsa dan Ayah di depan Istana Kesultanan Kadriyah Pontianak

Tidak ada perbedaan kasih dan cinta dari orang tuaku untuk aku, Elsa dan Sanne. Kami bertiga memanggil ayah dan bunda kepada orangtua kami. Kami juga diberikan kebebasan dan pengalaman yang sama. Tidak ada perbedaan makanan, tidak ada perbedaan perawatan kulit, tidak ada perbedaan pakaian, kami menggunakan barang yang sama. Kami seragam.

Kehadirannya dalam program AFS, bisa merubah cara pandang kami terhadap warga asing. Ia anak yang peduli dan rajin, hebat. Ia bisa menggantikan posisiku yang ada di Malang dengan membantu pekerjaan rumah bersama dengan adikku di kediaman kami kawasan Ampera-Danau Sentarum-Pontianak. Ia juga bisa ikut masuk dalam membantu program-program dari ayah dan bunda.

Bukan berkata “lamis” tapi menurutku, ia anak yang multitalent-sabar-sulit ditebak. Pada akhirnya, kami benar-benar membuat sebuah ikatan batin keluarga di belahan dunia lainnya. Sebuah pelajaran kebudayaan unik antara Indonesia dan Belgia via program AFS. “dank je, je hebt ons hart gestolen in Indonesië.”

IMG_20181106_163608_711

Foto yang ada ini membuat aku menuliskan sebuah goresan yang hampir menyerupai puisi. Untuk mereka: happy family. * (Penulis adalah volunteer Binabud Chapter Pontianak yang kini studi di Fakultas Teknik Unibraw, Malang, Jatim)