in ,

Novelis Kalimantan Barat Luncurkan Novel tentang Orang Rimba

Novel PDT

Teraju.id, Pontianak-Tragisnya nasib Orang Rimba atau Suku Anak Dalam (SAD) yang terusir dari hutannya sendiri, membuat  novelis sejarah dari Kalimantan Barat, Paul Tao Widodo terpanggil menuliskan kisahnya menjadi sebuah novel etnik berlatarbelakang konflik lingkungan.

Novel berjudul Perempuan di Ujung Tembawang (PDT) ini diterbitkan oleh  PT. TOP Indonesia, dan akan diluncurkan pada akhir September 2016.

“Saat ini kami tengah melakukan koordinasi dengan beberapa pihak terkait untuk persiapan launching-nya,” kata Paul di Pontianak.

Paul menambahkan, bahwa novel ini ditulis berdasarkan kisah nyata, yaitu terinspirasi dari pergulatan hidup Mak Marni, salah satu ketua rombong (kelompok)  SAD, yang hidup terjepit di sepetak hutan kecil, di antara hamparan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Damasraya, Sumatera Barat.

Paul sendiri tidak pernah bertemu Mak Marni, bahkan dia belum pernah menginjakan kakinya di pulau Sumatera. Tapi bagaimana dia bisa menulis novel dengan latar belakang etnik  dan budaya SAD?

Menurut Paul, dia mulai merasa tersentuh dan teruja apabila membaca puisi Wisnu Pamungkas tentang Mak Marni, yang berjudul Kunang-kunang Hutan, yang dipublikasikan pada 23 Desember 2014 silam.

Baca Juga:  Condolences for Sir Azyumardi Azra

“Dia juga menulis di facebook-nya, menyertakan link betapa SAD sebenarnya sudah dalam keadaan sekarat,” kenang Paul.

Penulis Novel Republik Lanfang ini lantas berinsiatif menghubungi para pihak yang terlibat dalam pemberdayaan dan penanganan Orang Rimba di Sumatera. Dia melakukan riset pustaka, bolak balik meminta data kepada pelaksana Program Peduli, dan fasilitator SSS Pundi Sumatera, yang bekerja bersama komunitas SAD ini.

Sementara itu  Communications Specialist Kemitraan- bagi Pembaruan Tata Pemerintahan (“Partnership”), Alexander Mering yang turut membantu mengedit novel, dan juga mempromosikannya kepada sejumlah pihak mengatakan bahwa Novel PDT ini menjadi menarik karena ditulis dari beberapa sudut pandang sekaligus. Bukan hanya dari sudut pandang SAD sebagai tokoh utama cerita, tetapi juga dari sudut para aktivis NGO, suara korporasi yang ditunding paling bertanggung jawab terhadap nasib SAD saat ini, dan bahkan membandingkannya dengan nasib suku Dayak di Kalimantan Barat—yang kondisinya tak jauh berbeda—di mana Paul tumbuh besar menjadi penulis.

Mering mengatakan, tentu tidak mudah bagi Paul untuk benar-benar bisa masuk atmosfir SAD yang dia tulis karena belum pernah bertemu para tokoh ceritanya. Belum lagi soal bahasa, membangun dialog, karakter para tokoh cerita, lengkap dengan pribahasanya.

Baca Juga:  6 Tahun yang Berwarna dan Bermakna

“Tapi bukankah Karl Friedrich May yang lahir di Jerman juga tidak pernah ke perkampungan orang Indian di bagian baraf Boffalo atau ke Newyork, ketika menulis kisah pertualangan Winnetou?” tegas Mering.

Saat ini kata Mering, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pihak-pihak yang terkait untuk endorsement dan juga rencana launching. Dia mengharapkan kegiatannya dapat dilaksanakan bertepatan dengan malam amal penggalangan dana untuk SAD yang dilaksanakan oleh SSS Pundi Sumatera, pada minggu ketiga September 2016.

Baik pihak penulis maupun penerbit, PT. TOP Indonesia telah setuju menghibahkan sebagian hasil penjualan novel ini untuk disumbangkan pada malam amal tersebut.

Bagi anda yang ingin ikut melakukan donasi dan memesan Novel PDT ini silahkan order di link ini.**

Written by teraju.id

Pontianak Potong 600 Sapi, Hampir 2000 Kambing

Asik Selfie Awas Jatuh