Feature

Novelis Kalimantan Barat Luncurkan Novel tentang Orang Rimba

Novelis Kalimantan Barat Luncurkan Novel tentang Orang Rimba
Novel PDT

Penulis Novel Republik Lanfang ini lantas berinsiatif menghubungi para pihak yang terlibat dalam pemberdayaan dan penanganan Orang Rimba di Sumatera. Dia melakukan riset pustaka, bolak balik meminta data kepada pelaksana Program Peduli, dan fasilitator SSS Pundi Sumatera, yang bekerja bersama komunitas SAD ini.

Sementara itu  Communications Specialist Kemitraan- bagi Pembaruan Tata Pemerintahan (“Partnership”), Alexander Mering yang turut membantu mengedit novel, dan juga mempromosikannya kepada sejumlah pihak mengatakan bahwa Novel PDT ini menjadi menarik karena ditulis dari beberapa sudut pandang sekaligus. Bukan hanya dari sudut pandang SAD sebagai tokoh utama cerita, tetapi juga dari sudut para aktivis NGO, suara korporasi yang ditunding paling bertanggung jawab terhadap nasib SAD saat ini, dan bahkan membandingkannya dengan nasib suku Dayak di Kalimantan Barat—yang kondisinya tak jauh berbeda—di mana Paul tumbuh besar menjadi penulis.

Mering mengatakan, tentu tidak mudah bagi Paul untuk benar-benar bisa masuk atmosfir SAD yang dia tulis karena belum pernah bertemu para tokoh ceritanya. Belum lagi soal bahasa, membangun dialog, karakter para tokoh cerita, lengkap dengan pribahasanya.

“Tapi bukankah Karl Friedrich May yang lahir di Jerman juga tidak pernah ke perkampungan orang Indian di bagian baraf Boffalo atau ke Newyork, ketika menulis kisah pertualangan Winnetou?” tegas Mering.