Tokya menahkodai Munzalan Mubarakan bersama Kyai Kabir–Lukmanul Hakim, SE, MM–alumni Pondok Pesantren Modern Gontor serta alumni Magister Management dari Selangor/Kuala Lumpur, Malaysia. Dua imam Munzalan yang sejak ayah kedua mereka bersahabat–Hasan dan Husni–serta dua kakek mereka bersahabat karib pula di desa terpencil era 1900-an–batas pinggir Selatan Kotamadya Pontianak: HM Saleh dan HM Godek. Trah saudagar dan ulama di Sungai Raya Dalam.

*

Hari ini 7 Februari 2021, genap setengah abad plus 1 tahun Tokya. Saya jadi mengingat masa di mana Abangnda mengajak “terbang” ke Mesjid Sunda Kelapa. Kala itu Kamis, malam Jumat. Kami inap di Hotel Sofyan Betawi yang dibelah dua jalur jalan saja menghadap Mesjid Tua Ibukota bernama Tjut Meutia–mesjid yang sekarang sedang dalam pemugaran besar-besaran menghadirkan dai sejuta umat Prof Dr UAS–Ustadz Abdul Somad dan Gubernur DKI Prof Dr Anies Baswedan. Mesjid tua sebagai cagar budaya Jakarta.

Sepanjang inap di Hotel Sofyan Betawi–baru kali ini setelah dua puluh tahunan kami tidak tidur sekamar. Maka kali ini nyaris kami tidak tidur karena saling bercerita. Bertukar pengalaman. Si Abang dengan ilmu kemasjidan, sedangkan saya ilmu liputan. Pertautan tokoh dan peristiwa dengan membongkar latar belakang dan esensi pergerakan mereka di lokal Kalbar, maupun nasional-internasional–bahkan dunia-akhirat. Ada urusan mental yang tak boleh ciut seperti mental tempe dan kerupuk. Dalam berjihad haruslah liyut!