Tokya menikah di bulan suci Ramadhan kala usianya masih belia, 22 tahun. Dia diakad-nikahkan oleh Imam Besar Mesjid Raya Mujahidin KH Abdur Rahim Ja’far dengan saksi HA Mawardi Dja’far. Tokya menikahi gadis kelahiran Pecinan Setia Budi irisan Jl Gajahmada dan Tanjungpura Kota Pontianak namun dibesarkan di Parit Baru–sejak bayi diangkat menjadi muslimah–alumni Tsanawiyah Negeri II dan SMA Santun Untan. Kini Tokya sudah punya empat anak dan 1 cucu. “China itu jangan dimusuhi, tapi dinikahi,” celoteh ringan Tokya. Banyak lingkungan Pecinan yang bergaul dengan Tokya dan memilih berpindah dari agama bumi ke agama langit. Bersyahadat.

Menjelang masa ulang tahunnya yang ke-51 dia kembali dapat “undangan” mengelola Tower Mujahidin sebagai bagian dari pengembangan wakaf Mesjid Raya Mujahidin yang diinisiasinya atas amanah inisiator Mujahidin HA Mawardi Dja’far. Ada tiga wasiat HA Mawardi Dja’far pertama adalah Kemakmuran Ibadah dan Kemasjidan.

Kedua galakkan dakwah di kalangan pemuda-remaja. Ketiga adalah bangun mercusuar komunikasi dan informasi. Orientasi HA Mawardi Dja’far adalah wakaf produktif. Mesjid yang produktif dengan kemakmuran mesjid. Mesjid penuh dengan pemuda-remaja. Dan mesjid yang unggul dalam komunikasi dan informasi dakwah.
“Ketiganya telah mewujud di Mujahidin. Pertama kemakmurannya telah menyebar di berbagai program dan lembaga. Pemuda dan remajanya tergarap dengan baik. Ketiga, saat ini saya diundang masuk dalam Badan Pengelola ‘Wakaf’ Mujahidin Tower,” kata Tokya. Di Mujahidin Tower sudah eksis Radio dan TV Mujahidin.