Saya dibawa terbang ketemu Muhammad Aksa dalam rangka wawancara bagaimana mengelola mesjid menjadi makmur seperti Sunda Kelapa di mana dana abadinya sampai Rp 6 miliar! Di Mesjid Sunda Kelapa Puang Aksa membangun ruang pertemuan, penginapan setara hotel dan rumah sakit ummat. Dana besar mengalir ke baitul maal Mesjid Sunda Kelapa. Itu rahasianya. Baitullah dan Baitul Maal. Remajanya aktif sejak mengaji sampai ilmu bela diri….Demi mendengar cerita Tokya saya tak sanggup tidur sampai jam 01.30 non stop bercerita sejak jeda Isya dari Mesjid Tjut Meutia.

Sepanjang Isya pukul 19.30 hingga pukul 01.30 maka genap 6 jam kami bertukar cerita-cerita menarik. Saya simpulkan bahwa keikhlasan dalam berbuat haruslah diutamakan demi mencari ridho Allah SWT. Sebab dalam shaf yang lurus dan rapi ada saja oknum yang tega “menikam” dari belakang. Tikaman-tikaman ini seram. Sampai-sampai beredar surat kaleng yang lempung. Sekali remas–raup.

Saya hanya berdehem bahwa musuh utama umat Islam bukanlah orang-orang kafir, tetapi catat: Orang MUNAFIK! MUNAFIQUN. Bisa cek saja di berbagai organisasi dan kelembagaan kita. Oleh karena Nabi yang mengutarakan hal itu maka sepanjang 6 jam berbincang bukanlah hal yang aneh bin ajaib. Kita sekali lagi diminta luruskan shaf dan berbuat bajik secara ikhlas LILLAH. Bukan Lil Pujian dan Lil Rupiah!
Saya tertidur pulas ketika secara tidak sadar melihat Nur Hasan sudah bangun Tahajjud pukul 03.00. “Tak sabar menunggu besok,” katanya. Subhanallah, dalam hati saya menilai betapa berkobar-kobar semangat dakwahnya Tokya.

*