Di masa usianya setengah abad plus 1 tahun, Tokya saya lihat mulai aktif kembali di Mesjid Raya Mujahidin. Dia memboyong filantropis dakwah dengan masuknya 20.000 mushaf Quran. Yang jika biaya cetaknya Rp 100.000 per mushaf setaralah nilainya dengan Rp 2 miliar.

Pemuda-remaja mesjid pun bagaikan dapat darah segar baru. Mereka menggeliat dengan baju seragam dan kantor lantai dasar Mujahidin Tower yang terus didandani menjadi rapi dan bersih–serta lebih menarik lagi dalam pandangan dakwah level lokal, nasional dan internasional.

“Munzalan sebenarya sudah sangat sibuk, tapi hati Tokya tetap ada di Mujahidin,” ungkap salah satu dari empat imam Munzalan, CEO Mesjid Billionaire–Mesjid Entreprise Beni Sulastyo, SE.

“Kami kasih pandangan agar Tokya fokus saja di Munzalan, Mujahidin itu sudahlah lepaskan. Tapi cinta Tokya ada di Mujahidin. Kalau soal cinta sudah lain cerita,” kata Kyai Kabir namun masih muda belia, KH Lukmanul Hakim.

Saya sebagai adik juga kasih catatan: Selamat Ulang Tahun ke-51 Tokya. 7 Februari 2021-1970. Bawalah aura kemajuan Mesjid Kapal Munzalan ke ibu kandungnya Mesjid Raya Mujahidin. Jika sudah kelar, lepaskan kepada generasi muda baru dengan spirit baru–kembali fokus di Munzalan si Mesjid Kapal–yang memang dinahkodai oleh Nabi Nuh Alaihis Salam Tuwassalam. Antara Nur dan Nuh memang beti: Beda-beda tipis 🙂
Selamat ulang tahun setengah abad plus 1 Tokya. Bahtera terapung mengarungi laut dengan sesekali datang badai dan prahara. Sejarah mencatat hal-hal seperti itu sebagai sunnatullah. Biasa saja adanya. Hanya ganti setting waktu dan personalnya. Inti hati manusia tetap sama. Ada kawan dan lawan. Ada pahlawan dan makan paha lawan.