Tokya bercerita soal masa remaja di SD Imaduddin–wakaf tanah ibundanya Hj Halijah yang lahir persis kelahiran HMI 5 Februari yang selalu menegasikan upaya memperkuat kemerdekaan Indonesia dengan nilai mencari ridho Allah SWT, dan SMP-SMA Mujahidin yang dibesarkan oleh tokoh-tokoh HMI dan Muhammadiyah–lekat dengan dua kata: Jihad (Mujahid) dan Muhammad SAW–Rasulullah. Lalu Nur Hasan studi ekonomi di STIE Boedi Oetomo dengan aktor intelektual Drs H Dg Yakim Noor, seorang tokoh nasional berasal dari keluarga besar Masyumi. Putra Dg Yakim Noor sekarang adalah Kepala Dinas Kehutanan, Ir H Adiyani, MH. Bersama dengan Tokya merawat wakaf H Sakke di mana kini berdiri Tsanawiyah dan SMA Boedi Oetomo di Sungai Raya Dalam–Parit Haji Husin sekaligus beririsan dengan Madrasah Ibtidaiyah Imaduddin wakaf dari Hj Halijah–sementara Munzalan Mubarakan berada di sebelah Imaduddin.
Tokya bercerita tentang dinamika Boedi Oetmo, Imaduddin, Ikhwanul Mukminin, STIS, SMK Madani, Mujahidin dan tentu saja fase-fase monumental pertumbuhan dan perkembangan Munzalan Mubarakan Ashabul Yamin dengan gebrakan GIB (Gerakan Infak Beras) hingga Sedekah Akbar mapun Subuh Akbar Kalbar. Gebrakan yang punya ruh dakwah garis bawah, namun berimplikasi politis menyatunya sikap politik umat Islam. Tidak hanya untuk Kalbar, tapi juga mewarnai belantika dakwah nasional di mana UAS dan Yusuf Mansur pun kerap bolak-balik ke Munzalan.
