Mickey Shachar, 2016, memeta-analisis 125 penelitian eksperimental dan kuasi eksperimental yang membandingkan hasil pembelajaran tatap muka dan PJJ yang dilaksanakan dalam kurun waktu 20 tahun. Ada 20.000 siswa yang berpartisipasi. Hasilnya, PJJ juga tidak cukup tinggi dibadingkan dengan yang tradisional (ES= 0.257)
Qian Liu, Weijun Peng, Fan Zhang, Rong Hu, Yingxue Li, Weirong Y, 2016, membandingkan besar efek ‘blended learning’ dan pembelajaran tradisional di kalangan profesi kesehatan. Mereka memeta-analisis 56 penelitian yang memenuhi syarat. Ditemukan bahwa besar efeknya juga tidak tinggi (ES= 0.26).
Penelitian Cheng Li,, Jing He, Chenxi Yuan, Bin Chen, dan Zhiling Sun, (2019) juga membandingkan besar efek ‘blended learning’ dan terdisional masih di lapangan kesehatan, yaitu di palangan pendidikan keperawatan. Ada 8 penelitian yang memenuhi syarat dan 574 perawat tang beroartisipasi. Ditemukan bahwa blended learning secara signifikan meningkatkan pengetahuan (ES = 0.70), ketrampilan (ES= 0.58), dan kepuasan para perawat terhadap kompetensinya (ES= 0.72).
Tahun 2020 ini, Alexandre Vallée, Jacques Blacher, Alain Cariou, dan Emmanuel Sorbets memeta-analisis 56 penelitian ‘blended learning’ masih di bidang kesehatan (9943 partisipan). Hasilnya, terhadap pembelajaran daring tinggi (ES= 0.73). Namun, terhadap luring, tidak jauh berbeda (ES= 0.08)
Di bidang pendidikan umum, meta analisis ‘blended learning dilakukan oleh Hien M.Vo, ChangZhu, dan Nguyet A.Diep (2017). Besar efek ‘blended learning’ jika dibandingkan dengan tatap muka rendah (ES= 0.385, N=51)
Walau kebijakan ‘blended learning 2021’ ini secara khusus diambil untuk menghadapi ‘new normal’ di masa pandemi COVId-19, ada harapan di masa mendatang terutama untuk memenuhi kebutuhan para milenial.
