“Kecuali kalau hujan, jualan saya jarang sekali habis, masih tersisa sedikit,” tuturnya. “Biasanya saya berikan kepada saudara-saudara kita yang di sana,” sambungnya, sambil menunjuk ke beberapa orang tunawisma yang masih terbaring pulas di pelataran pembatas tanaman hias dan jalur pedestrian untuk pejalan kaki.

Mereka adalah para pekerja yang sulit mendapatkan fasilitas rumah karena tarif sewa yang cukup mahal di sini. Dua keping keramik ukuran sedang cukup sebagai alas tidur beratapkan langit bagi para tunawisma ini.

Mungkin karena senang berbagi ini yang menyebabkan Bu Zubaidah jarang menderita sakit. Beliau tampak segar. Hidupnya penuh barakah. Murah rezeki. Padahal tiap hari ia selalu bangun awal, jam satu dinihari, guna menyiapkan segenap jualannya tersebut. Meracik bumbu, memasak nasi serta aneka ragam lauk dan sayur, dikemas di panci-panci besar, lalu memasukkannya ke bagian belakang mobilnya, dan meluncur sekitar 15-20 menit menuju trotoar tempat berjualan ini.

Hidup Bu Zubaidah mengalir saja. Setelah suaminya wafat beberapa tahun lalu, praktis ia sendiri yang membesarkan kelima anaknya. Tiga anaknya sudah memberikan cucu, hiburan tak ternilai baginya.

Di Malaka, kami juga jumpa dengan warga Indonesia lainnya. Syukri namanya. Pria 24 tahun yang masih bujangan ini sudah tiga tahun merantau ke Malaka. Mengandalkan ketrampilan mengupas kelapa muda hingga ke bagian dalam batoknya yang masih lembut hingga hanya tersisa daging kelapa bulat utuh. Menghadirkan sensasi baru menikmati kelapa muda. Airnya diminum dengan sedotan, saat diseruput segarnya terasa masuk ke tenggorokan. Selanjutnya, giliran daging lembut yang disantap.