Meski alam kolonial dimaklumi sebagai realitas penindasan, rijsttafel menyekam inspirasi tak ternilai bagi perkembangan awal konsep kuliner di Indonesia. Orang Belanda nampaknya mengemas kebiasaan makan di tanah koloninya sebagai gaya hidup juga daya tarik wisata.
Untuk pertama kalinya dalam perkembangan kuliner di Indonesia, makanan tradisional mendapat kedudukan istimewa pada masa kolonial. Bahkan hingga belakangan ini, di Belanda hidangan Indonesia masih menjadi daya tarik wisata melalui budaya makan rijsttafel-nya.
Memasuki awal abad ke 20 yang lalu, rijsttafel mengalami semacam formalisasi yang melahirkan berbagai bentuk inovasi penyajian sehingga menunjukkan perkembangan penting dan menarik.
Rijsttafel memang tidak dapat dipisahkan dari aspek penyajian yang terlihat dalam berbagai unsur, seperti kelayakan tempat dan waktu jamuan, tata cara penyajian, serta penggunaan peranti dan komposisi hidangan.
Sementara itu, pengaruh kuliner Belanda juga tampak sekali pada beberapa jenis variasi hidangan yang disajikan. Sebenarnya beberapa jenis hidangan bukan murni Belanda karena di dalamnya telah terjadi percampuran dan penyesuaian bahan. Beberapa jenis hidangan itu di antaranya sup (soep), perkedel (frikadel), semur (smoor), bistik (biesfstuk), suar suir ayam (zwartzuur) dan lainnya.
