Opini

Di Puskesmas PTT

Di Puskesmas PTT

Suatu hari ada seorang bapak datang ke rumah membawa sekeranjang durian.

“Ini untuk Bu Doktoo. Terima kasih, Bu Doktoo sudah menyembuhkan anak saya. Dia sudah berlarian dengan teman-temannya” Katanya.

“Aku suka durian, Bang. Tetapi, cukup sebuah saja. Yang lain Abang jual untuk beli beras. Kuambil yang ini ya!” Kataku.

“Yang ini saja Bu Doktoo. Ini yang paling bagus. Itu juga bagus tetapi ini yang paling bagus. Dagingnya tebal. Manis menggigit”

“Baiklah. Aku ambil yang itu. Yang lain bawa ke pasar sana”

“Tidak! Bu Doktoo. Semua untuk Bu Doktoo.” Katanya sambil bergegas neninggalkan keranjangnya.

Semacam ini hidupku bersama mereka. Kami hidup dengan penuh kesederhanaan. Tetapi, kami saling berbagi tanpa menghitung unrung-rugi. Bahu-membahu satu dengan yang lain. Kehidupan seperti itulah yang ku jalani bersama mereka dari hari ke hari.

Bapak, Ibu, dan adik-adik, aku di sini memiliki banyak sahabat dan kerabat. Kalian tidak usah risau. Peluk ciumku dari jauh untuk kalian.

Jika senja tiba, aku biasa naik ke bukit batu di belakang rumah. Di sana ada sebuah sumber air kecil di antara bebatuan. Dari sumber air ini, penduduk mengalirkannya ke rumahku. Agar sambungan slangnya tidak lepas, air itu dibiarkan mengucur terus tiada henti. Tumpahan airnya mengalir ke parit sebelah rumah.