“Tiga puluh tahun engkau menjalani laku ziarah hidup di alam fana. Kini, mereka kembali menyatu denganmu. Bersama mereka engkau mulai mengarungi alam keabadian yang tanpa batas. Ada terang tetapi tidak ada bayangan. Engkau dapat mendengar suara tetapi tidak dapat melihat dirimu sendiri. Yang ada hanyalah hening dan damai” Bisikan itu semakin lirih dan akhirnya lenyap sama sekali.
….
Dalam keheningan, kembali muncul bianglala tujuh warna membentang di batas cakrawala. Kutapaki anak tangga bianglala satu per satu sambil menyibak rerimbunan sulur-sulur bunga Air Mata Ibu.
Tiba-tiba kakiku telah menjejak hamparan tepian pantai Tanjung Batu. Nyanyian “Nyiur Hijau” menggema, menyusup relung-relung mega stratus-nimbus yang berarak mengarungi angkasa jagad raya..
Aku kembali ke Puskemas PTT enam tahun yang lalu. Pada layar plasma langit muncul tayangan rekaman jejak hidupku dari hari ke hari, sebagai dokter perempuan yang masih muda belia di antara masyarakat pulau-pulau terluar dan terpencil.
Selama tiga tahun aku tinggal di sebuah rumah kayu 6×6 m2 berbentuk panggung. Tiap malam tidurku ditemani nyanyian alam, dengkungan kodok yang bersahutan dari kolong rumah.
Rumah ini terbuka selama 24 jam. Kapan saja orang dapat mengetuk pintu mengabarkan ada orang sakit yang perlu ditolong. Mereka adalah orang-orang yang sangat sederhana serta polos.
