Opini

Di Puskesmas PTT

Di Puskesmas PTT

Oleh: Dr Leo Sutrisno

Di dalam gulungan belalai bianglala, aku tertidur nyenyak, beralaskan beludru bunga mawar warna putih. Taburan bunga kemuning berbaur bunga kamboja memenuhi jagad raya. Aku berada pada titik puncak kenikamatan cinta yang luar biasa.

Ketika terjaga, aku telah berada di dalam ruang yang gelap gulita. Kelembutan farfum ibu digantikan aroma makanan kesukaannya, menusuk-nusuk hidung.

Tak berselang lama muncul seberkas cahaya sebesar kunang-kunang. Cahaya lembut ini memberi daya kehidupan bagi segala ciptaan-Nya. Tak terasa dari waktu ke waktu badanku terus-menerus tumbuh semakin besar. Akhirnya, dinding ruang yang mengurungku pecah.

Gelombang tekanan air kawah mendorongku menembus celah robekan itu. Tiba di luar langsung disambut dengan bentangan tilam merah darah yang dengan lembut memeluk dan melindungiku dari segala sesuatu yang mungkin terjadi. Ari-ari menyusul kemudian. Tak begitu lama, aku merasa dipisahkan darinya. Seseorang telah memotong tali pusar.

Cahaya kemerahan memancar di ufuk timur. Gelombang taburan bunga dari keempat penjuru angin serempak menuju ke padaku. Alam berbisik lembut, “Anakku, gelombang bunga-bunga itu mengiringi kedatangan keempat saudaramu. Air kawah dari timur, darah dari selatan, ari-ari dari barat, dan tali pusar dari utara”.