Filosofi Pembangunan
Berdasarkan sejarah peradaban manusia di muka bumi eksistensi manusia dibagi menjadi tiga babak. Pertama, manusia berada di bawah alam. Kedua, manusia setara dengan alam. Ketiga, manusia berada di atas alam.
Pada babak pertama peradaban, manusia berada di bawah alam, yakni fase di mana manusia belum menguasai alam. Mereka hidup nomaden atau berpindah-pindah. Lebih lanjut mereka hidup berburu dan meramu. Tulisan belum mereka kenal. Mereka berada di babak prasejarah.
Di babak kedua peradaban umat manusia, mereka mulai berada setara dengan alam, dimana aspek budidaya sudah dikenal. Mereka mulai menetap–tidak lagi nomaden–atau berpindah-pindah untuk berburu dan meramu. Mereka sudah mengembangkan sikap hidup budidaya (agrikultur)–dan mengembangkan pola komunikasi dari verbal lisan kepada tulisan. Masa ini sudah menjadi masa sejarah.
Babak ketiga, adalah babak di mana sebagian besar umat manusia di dunia sekarang ini berada. Manusia telah mengungguli alam. Alam pun dieksploitasi beradasarkan ilmu, pengetahuan dan pengalamannya yang bereplikasi semakin cepat melalui kemajuan sain serta teknologi. Namun, kita terbelalak. Tersentak. Bahwa selain nilai manfaat yang bisa dipetik dan dirasakan, akibat eksploitasi alam tersebut juga menimbulkan malapetaka yang sangat besar. Sebut misalnya erosi akibat pembukaan lahan besar-besaran bagi perkebunan. Erosi itu menyebabkan tanah menjadi miskin hara. Akibatnya tanah hanya bisa ditumbuhi ilalang dan mudah terbakar. Terbakarnya lahan ini mengekspor asap sampai ke Negeri Jiran. Hubungan alam dan manusia pun berkembang menjadi masalah antarnegara. Menjadi masalah dunia. Menjadi masalah global. Oleh karena itu sekarang ini sangat kencang isu pemanasan global atau global warming.
Enrichment KLHS 2016-2021 Kabupaten Ketapang
Baca Juga:Penulis dan Tugas Menjaga Bahasa Ibu
